Jakarta, CNBC Indonesi a kepala Transisi alih kelola Blok Rokan dari PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) ke PT Pertamina (Persero) akan berlangsung tahun depan, tepatnya pada 8 Agustus 2021. Sampai saat ini proses alih kelola masih terus berjalan.

Deputi Operasi Satuan Kerja Istimewa Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Patra dan Gas Bumi (SKK Migas) Fataryani Abdurahman mengatakan transisi Kelompok Rokan jika dibandingkan dengan transisi Wilayah Kerja (WK) lain, sedang cukup baik.

Pasalnya Chevron masih mau berinvestasi sampai berakhirnya production sharing contract (PSC) Blok Rokan. Fatar menyebut dengan akan diinvestasikan adalah pengeboran, sebab Chevron merasa ada tanggungjawab membekukan laju decline.


“November pengeboran sampai awal Agustus atau akhir Juli, mudah-mudahan dikerjakan 114 sumur baru, 3 di antaranya sumur re-entry sumur lama. Chevron sendiri tidak full menikmati sumur-umur ini, akan banyak dinikmati Pertamina, ” jelasnya.

Ditargetkan akan ada dua rig tahun ini, sehingga mampu mengebor 14 sumur, lalu sampai Juli bisa tercapai 3 rig lagi sehingga bisa mengebor 114 sumur.

“Harapan awak begitu investasu berjalan maka pertamina kita undang untuk waktu 1 tahun agar meneruskan, agar Agustus itu mereka bisa mengebor sedikitnya 10 rig sehingga 200 sumber di akhir 2021 bisa makbul. Ini cukup bagus, ” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan tidak ada kewajiban PSC cadangkan dana ASR. Namun Chevron bersedia mencadangkan untuk ASR dan dana dari pemerintah mengikuti cost recovery. Sehingga paling tidak datang tahun 2021 ada cadangan.

“Kami sedang bekerja sungguh-sungguh dengan KLHK untuk memfinalkan kegiatan lingkungan. Dalam minggu ini awak menuju lapangan, sampling ini potret terakhir lingkungan sehingga agreement kita dengan Chevron lebih jelas & auditable. Agreement selesai Agustus, mudah-mudahan November ngebor, “paparnya.

Hal senada disampaikan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. Menurutnya, terkait dengan alih kelola Blok Rokan, yang perlu dipahami adalah sedang mengacu pada Kontrak Bagi Buatan Produksi (PSC) lama.

Sehingga tidak tersedia kewajiban pencadangan ASR paska sumbangan. Ada dua ASR dan pengerjaan tanah terkontaminasi yang tentu selalu tidak bisa selesai tuntas pada 2021 ketika beralih ke Pertamina.

“Sesungguhnya kita mencari upaya-upaya untuk atasi dan menyekat dispute dalam dua hal itu dengan program-program yang disampaikan. Beta minta salah satunya audit & hal lain terkait dengan nilai program paska tambang tadi, ” ujarnya.

Saksikan video terkait di bawah ini:

(dob/dob)