Jakarta, CNBC Nusantara – Indonesia mencetak surplus transaksi berlaku pada kuartal III-2020, memotong kekurangan yang dicetak selama 9 tarikh. Pada kuartal IV-2020, pertanda ekses tersebut dinilai masih terlihat serta memberi jalan lapang bagi pemangkasan suku bunga acuan.

Bank Indonesia pada Jumat (20/22/2020) mengumumkan bahwa Neraca Pembayaran Indonesa (NPI) mencetak surplus pada kuartal III-2020, meski tak sebesar surplus kuartal sebelumnya. Namun yang menjadi kejutan adalah transaksi berjalan berhasil surplus.

“NPI mencatat ekses sebesar US$ 2, 1 miliar pada triwulan III 2020, melanjutkan capaian surplus sebesar US$ 9, 2 miliar pada triwulan sebelumnya. Surplus NPI yang berlanjut itu didukung oleh surplus transaksi berlaku maupun transaksi modal dan finansial, ” tulis BI dalam tanda resminya.


Sementara itu, surplus transaksi berjalan tercatat senilai US$ 1 miliar atau 0, 4% dari Buatan Domestik Bruto (PDB), yang ditopang neraca barang seiring dengan perbaikan kinerja ekspor di tengah anjloknya impor akibat lemahnya permintaan pribumi.

Penggerak utama surplus NPI salah satunya adalah kuatnya aliran masuk ( capital inflow ) investasi portofolio yang mencapai US$ 1, 8 miliar dan investasi asing langsung ( foreign direct investment /FDI) sebesar US$ 1, 1 miliar.

Menurut J. P. Morgan dalam laporan risetnya, ekonomi Indonesia semestinya pulih berangkat kuartal pertama tahun depan, bersamaan dengan berbaliknya surplus transaksi berjalan menjadi defisit. Pada kuartal IV-2020, bank investasi asal Amerika Serikat (AS) tersebut memperkirakan transaksi berlaku masih akan surplus.

Sumber: JP Morgan

“Kami sebelumnya telah memperkirakan laju pemulihan dengan lebih cepat pada semester kedua 2020, tetapi kami harus merevisi jalurnya dengan memasukkan neraca pembicaraan berjalan di dalamnya, ” tulis analis J. P. Morgan Sin Beng On, dalam laporan Asia Pacific Economic Research yang dirilis kemarin.

Sejauh ini, data neraca perniagaan per Oktober memang masih menunjukkan surplus lanjutan di transaksi berlaku, yakni sebesar US$ 3, 61 miliar atau tertinggi sepanjang tarikh ini. Sebaliknya, impor anjlok 6, 8% secara bulanan, dengan pembetulan terdalam dialami kelompok barang pangkal sebesar 13, 33%.

Memasuki November masukan transaksi non-residen per 9-12 November menunjukkan investor asing membukukan beli bersih Rp 7, 18 triliun, meningkat dari periode 2-5 November 2020, di mana asing sudah mencetak pembelian bersih sebesar Rp3, 81 triliun. Ini akan membantu memperkuat surplus neraca pembayaran pada kuartal IV-2020.

Jika kuartal IV-2020 dasar masih surplus, maka J. P. Morgan memperkirakan BI akan balik memangkas suku bunga acuannya sejumlah 25 basis poin menjadi 3, 5% pada kuartal pertama 2020.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(ags/ags)