Jakarta, CNBC  Indonesia – Tim  Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) melakukan penelitian dalam rangkaian  rangkaian pra feasibility study (pra FS) pemanfaatan arus laut dalam penyemangat listrik tenaga arus laut,   di Selat Pantar, Nusa Tenggara Timur.

Tim masa ini telah menyelesaikan tahapan pengunduhan data kecepatan arus (sementara) dari alat ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler) untuk mendapatkan data kemajuan arus laut selama 30 keadaan atau 1 bulan di Selat Pantar, Nusa Tenggara Timur.

Salah satu lokasi dengan memiliki potensi energi laut cukup besar adalah perairan Selat Pantar, NTT. Berdasarkan penelitian P3GL dalam 2011, selat ini memiliki kemajuan arus rata-rata cukup deras, sekitar 2 m/s, sehingga memiliki daya untuk dikembangkan sebagai sumber penyemangat listrik.


Lokasi Celah Pantar dipilih karena berada pada luar Pulau Jawa, sesuai dengan kegiatan prioritas Badan Perencanaan Pendirian Nasional (BAPPENAS 2020-2024).

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan pemerintah pusat dan daerah, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, PT PLN, Pusat Penelitian & Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Perdana Terbarukan, dan Konservasi Energi, & Independen Power Producer (IPP), mengikuti instansi terkait lainnya dalam cara pemanfaatan energi baru terbarukan khususnya energi arus laut.

Hasil kegiatan ini juga diharapkan akan mendukung pelaksanaan Rencana Pendirian Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024 di dalam kegiatan prioritas bidang energi, khususnya pemanfaatan energi baru terbarukan sebab laut. Studi ini juga diharapkan dapat mendukung pencapaian target 23% bauran EBT pada tahun 2025 melalui penelitian potensi dan analisis teknologi pemanfaatan energi arus laut.

Pada tahun 2016, P3GL telah mengolah data kecepatan arus di sejumlah selat dengan potensial di perairan Indonesia. Kemajuan arus yang besar umumnya berkecukupan di perairan sekitar Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Kecepatan arus berkisar dari 0, 6 had 3, 5 m/s. Kecepatan aliran lebih dari 2m/s terdapat dalam Selat Pantar, Lombok, Toyapakeh, Larantuka, Alas, Molo, Sunda, dan Boleng. Secara umum, tipe pasang surut (pasut) di perairan Indonesia merupakan tipe pasut semidiurnal. Artinya pada satu hari terdapat dua kali pasang dan dua kali surut.

Metode pelaksanaan akuisisi data survei ini mengacu dalam standar European Marine Energy Center, 2009. Pengumpulan data sekunder penelitian ini meliputi data pasang surut, peta geologi, peta topografi, denah batimetri, dan berbagai data sejak penelitian terdahulu dan dari berbagai instansi lainnya.

Keterangan sekunder ini dijadikan referensi pangkal untuk memahami kondisi daerah studi, sehingga memudahkan dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan lapangan.

Tim juga melakukan Recognize sebelum pelaksanaan ke lokasi studi untuk mendapatkan gambaran tentang situasi sarana dan prasarana yang ada. Penelitian lapangan dititikberatkan pada pengkajian kecepatan arus laut selama satu bulan.

Menjepret: Dok: Kementerian ESDM

Kegiatan yang dilakukan adalah penentuan posisi koordinat pengukuran, menentukan leveling posisi koordinat terhadap benchmark (BM), pengukuran arus, pengukuran elevasi muka laut, pengukuran kedalaman dasar laut, serta pengamatan meteorologi maritim.

Penelitian pasang surut dilaksanakan selama satu bulan untuk mendapatkan data pasang mundur (spring dan neap tide). Pencatatan elektronis menggunakan Valeport TideLog Model 740 Portable Water Level Recorder yang dikontrol dengan hasil bacaan visual rambu pasang surut setiap satu jam.

Leveling BM (benchmark) menggunakan peralatan Waterpass, sedangkan pengukuran koordinat BM memakai peralatan GPS (Global Positioning System). Leveling BM bertujuan untuk memperoleh harga ketinggian BM terhadap kediaman rata-rata muka air laut (MSL).

Pengukuran arus untuk mengetahui pola aliran di daerah penelitian yang erat kaitannya dengan data potensi gaya listrik yang dapat dibangkitkan daripada energi arus. Pengukuran arus dengan bergerak dan stasioner, menggunakan peralatan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP). Pengamatan meteorologi maritim menggunakan Weather Station untuk mengetahui parameter meteorologi seperti arah dan kecepatan jalan, temperatur udara, dan kelembaban udara.

Pada tahap simpulan, para peneliti akan melakukan pengolahan data hasil penelitian yang mengungkung pemodelan sebaran kecepatan arus, potensi energi laut, juga membuat penjelasan hasil pemodelan serta analisis hasil pengolahan data.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)