Jakarta, CNBC Indonesia – Peneliti menyatakan bahwa angka kematian akibat virus Covid-19 di Amerika Serikat (AS) masih akan meningkat tajam hingga perut kali lipat pada April 2021, meski vaksin sudah ditemukan.

Dikutip dari CNBC International , Direktur Institute of Health Metric and Evaluation (IHME) Christopher Murray, menyatakan bahwa masih ada banyak hambatan buat menekan angka kematian.


Menurut perhitungannya, vaksin hanya mengurangi jumlah kematian sebesar 9. 000 sebelum 1 April 2021 sedangkan peluncuran vaksin dengan cepat yang menargetkan individu berisiko tinggi dapat menyelamatkan 14. 000 lebih banyak nyawa.

Sehingga, ia menambahkan AS diperkirakan mengalami 539. 000 kematian kumulatif pada April mendatang.

“Peningkatan vaksinasi secara massal pada 2021 berarti kita memiliki jalan kembali ke kesibukan normal, tetapi masih ada kira-kira bulan yang sulit ke aliran, ” kata Murray dalam suatu pernyataan dikutip Senin (7/12/2020).

“Kita harus waspada di melindungi diri kita sendiri setidaknya hingga April, ketika, seperti yang ditunjukkan proyeksi kami, vaksin mau mulai berdampak. ”

Peneliti tersebut juga mengatakan bahwa meningkatkan pemakaian masker hingga 95% dapat menyelamatkan 66. 000 menghabisi pada 1 April.

Ia mendesak negara bagian buat menerapkan mandat untuk mengurangi penyebaran dan mengurangi tekanan pada pola perawatan kesehatan, Apalagi dengan munculnya musim dingin yang menguatkan era inkubasi virus.

“Terutama di Belahan Bumi Utara, betul penting bagi pemerintah untuk memaksakan atau menerapkan kembali mandat dengan membatasi pertemuan dan memerlukan kedok, ” katanya.

“Di mana gelombang musim dingin memerosokkan lonjakan infeksi, akan ada banyak orang yang masih dapat terinfeksi dan mungkin meninggal sebelum vaksin diluncurkan sepenuhnya. ”

AS memasuki fase baru pandemi yang mengganas ketika infeksi menjalar ke seluruh negeri dan panti sakit menangani sejumlah rekor anak obat sejak dimulainya pandemi.

Negara itu melaporkan lebih sebab 227. 800 kasus Covid-19 Jumat (4/12/2020), rekor sejak pandemi dimulai. Menurut  data Johns Hopkins,   2. 600 orang meninggal.

[Gambas:Video CNBC]
(sef/sef)