Jakarta, CNBC Indonesia –  Nilai tukar rupiah mengalami kemerosotan terhadap greenback  menjelang libur natal tahun 2020. Rupiah mengalami koreksi 0, 5% sepanjang pekan ini bersama secara mata uang utama Asia yang lain.  

Pada perniagaan terakhir di minggu ini (23/12/2020) nilai tukar rupiah dibanderol pada Rp 14. 150/US$ di arena pasar spot. Rupiah menjadi satu diantara mata uang dengan kinerja terburuk jika dibandingkan dengan mata uang negara Asia lain.

Namun rupiah masih lebih mending ketimbang Baht Thailand yang terdepresiasi 0, 67% di hadapan dolar AS dan Ringgit Negeri Jiran yang melemah 0, 52% terhadap greenback.  


Hanya Won Korea Selatan yang berhasil menguat betul tipis 0, 03% terhadap dolar AS ketika indeks dolar terbit dari level terendahnya  di dua setengah tahun terakhir dengan pengetahuan sebesar 0, 3%.

Minggu ini tersedia beberapa peristiwa yang menjadi hati penggerak nilai tukar rupiah. Prima tentu dari perombakan kabinet dengan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo  (Jokowi).

Pada pangkal pekan ini Jokowi  menunjuk enam menteri baru di Kabinet Indonesia Maju.   Pergantian tersebut diharapkan bisa meningkatkan kinerja dalam peristiwa penanggulangan virus corona beserta dampaknya, serta membangkitkan perekonomian.

Meski demikian, sejak awal minggu sentimen pelaku pasar sebenarnya invalid bagus, bahkan bisa dikatakan buruk akibat mutasi virus corona di Inggris yang dikatakan bisa bertambah mudah menyebar.

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mencanangkan temuan varian baru virus corona bernama VUI 202012/01 atau pada klaster pohon filogenetiknya (pohon kekerabatan berdasarkan data genetik) disebut sebagai varian B. 1. 1. 7.

Varian baru virus Covid-19 tersebut dikabarkan memiliki 70% peluang penularan lebih tinggi ketimbang strain awalnya. Akibatnya, banyak negara-negara yang menutup perbatasannya dengan Inggris. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah mengidentifikasi virus itu di Denmark, Belanda, dan Australia.

Adanya sentimen minus terkait perkembangan pandemi Covid-19 dan momentum jelang natal membuat petunjuk aliran modal keluar ( capital outflow ) terjadi di aset ekuitas RI.  

Di minggu itu pasar keuangan domestik hanya buka tiga hari saja sesuai secara ketetapan cuti bersama dan libur Natal & Tahun Baru (Nataru). Investor asing mencatatkan aksi berniaga bersih saham senilai Rp 3, 65 triliun di seluruh pasar.

Sementara itu pada pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tarikh naik 1, 3 basis pokok (bps) menjadi 6, 124%. Tidak hanya hari ini, sejak asal pekan yield SBN sudah menjalani kenaikan, total sebesar 14, 8 bps.

Untuk diketahui, pergerakan yield obligasi berbanding berlawanan dengan harganya. Saat yield terbang, artinya harga sedang turun. Era harga turun, kemungkinan asing membiarkan kepemilikannya, artinya terjadi capital outflow

Adanya capital outflow dan hati negatif terkait perkembangan Covid-19 menghasilkan rupiah mengalami pelemahan di minggu ini.

TIM RISET CNBC  INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(twg/twg)