Jakarta, CNBC Indonesia –  Harga kontrak futures (berjangka) minyak mentah mantap menguat di perdagangan pagi hari ini, Kamis (17/12/2020). Penurunan stok minyak AS menjadi katalis kenaikan harga si emas hitam.  

Harga kontrak futures yang aktif ditransaksikan menguat 0, 7% dari status penutupan kemarin. Pada 10. 10 WIB kontrak futures Brent berharta di US$ 51, 44/barel tatkala untuk kontrak West Texas Intermediate (WTI) di US$ 48, 18/barel.


Sebetulnya malam, pemerintah AS merilis data resmi stok minyak mingguan lewat Energy Information Agency (EIA). Persediaan minyak mentah AS pekan berserakan yang berakhir pada 11 Desember turun 3, 13 juta barel.  

Penurunan itu jauh lebih dalam dari taksiran analis yang memprediksi stok berkurang 1, 94 juta barel saja. Data tersebut juga berbanding bertentangan dengan laporan asosiasi industri minyak AS (API) yang menyebut simpanan minyak justru naik 2 juta barel minggu lalu.  

Stok bensin dan minyak distilat mengalami kenaikan tetapi bertambah rendah dibandingkan dengan konsensus yang dihimpun oleh Trading Economics. Stok bensin naik 1 juta barel, sementara konsensus menyebut stok bensin akan naik 1, 6 juta barel.

Untuk jenis minyak distilat  persediaannya naik 0, 17 juta barel, lebih rendah dari perkiraan konsensus di 0, 89 juta barel minggu berarakan. Penurunan stok minyak mentah dengan dalam dan kenaikan produk turunannya tetapi lebih rendah dari konsensus menjadi katalis untuk kenaikan nilai minyak tembus rekor barunya di 9 bulan terakhir.  

Namun akibat adanya aliran kedua Covid-19 dan pengetatan mobilitas melalui lockdown jilid II di GANDAR maupun Eropa, IEA memangkas prediksi permintaan minyak untuk tahun itu dan tahun depan.  

IEA yang merevisi turun permintaan minyak sejumlah 50 ribu barel per keadaan (bph) tahun ini dan 170 ribu bph untuk tahun pendahuluan karena masih minimnya mobilitas jadi permintaan terhadap bahan bakar transportasi terutama pesawat masih rendah.

Menambah sentimen positif untuk minyak ada kabar menggembirakan soal stimulus lanjutan di Negeri Pakcik Sam. AS yang selama itu negosiasinya terus menemukan jalan mati, kini sudah ada titik terang.

Proposal bipartisan dengan diusulkan senilai US$ 908 miliar itu dipecah menjadi dua rencana undang-undang (RUU).

RUU yang pertama akan spesifik mencakup bantuan senilai US$ 748 miliar. Bantuan ini rencananya akan dialokasikan untuk tambahan program paycheck protection program (PPP), asuransi pengangguran, sekolah dan alokasi untuk pengembangan serta distribusi vaksin.

Poin-poin tersebut disepakati oleh kedua mengaduk-aduk pihak baik Partai Demokrat dengan menguasai DPR dan Partai Republik yang menguasai Senat. Sementara tersebut untuk RUU yang mencakup tumpuan senilai US$ 160 miliar dengan berisi tentang bantuan sektor usaha dipisah karena poin ini yang memicu perbedaan pendapat.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(twg/twg)