Jakarta, CNBC Indonesia –  Harga minyak mentah  mengalami koreksi pada perdagangan pagi hari ini, Rabu (16/12/2020). Kendati mengalami penurunan harga si emas hitam masih tertahan di level tertingginya dalam sembilan bulan terakhir.  

Lagian koreksi yang terjadi juga sedikit saja. Pada 09. 50 WIB, harga kontrak futures Brent dan West Texas Intermediate (WTI) turun 0, 06%. Brent ke US$ 50, 73/barel dan WTI  ke level US$ 47, 59/barel.


Sentimen negatif datang sebab laporan asosiasi industri minyak AS yang menyebut bahwa stok minyak mentah pekan lalu naik dua juta barel ke 495 juta barel. Hal ini berbanding bertentangan dengan perkiraan analis yang menebak bakal ada penurunan stok sebesar 1, 9 juta barel.

Hari ini fokus pelaku pasar adalah menunggu rilis maklumat resmi stok minyak dari negeri melalui EIA. Ada kemungkinan antara data asosiasi dan pemerintah berbeda.

Menaikkan sentimen negatif ada proyeksi dibanding IEA  yang merevisi turun suruhan minyak sebesar 50 ribu barel per hari (bph) tahun itu dan 170 ribu bph  untuk tahun depan karena masih minimnya mobilitas sehingga permintaan terhadap benih bakar transportasi terutama pesawat masih rendah.

Namun walaupun program vaksinasi darurat tidak mau langsung membuat roda ekonomi meluncur kencang setidaknya kabar ini sudah cukup membuat pasar optimis menyongsong tahun depan. Setelah Inggris, saat ini langkah vaksinasi darurat juga akan ditempuh oleh AS.

Koreksi harga minyak juga merandek akibat berita positif yang sampai dari stimulus jumbo AS dengan selama ini negosiasinya terus menjumpai jalan buntu. Kini sudah tersedia titik terang.

Rencana bipartisan yang diusulkan senilai US$ 908 miliar itu dipecah menjelma dua rancangan undang-undang (RUU).

RUU yang pertama akan spesifik mencakup bantuan senilai US$ 748 miliar. Bantuan ini rencananya akan dialokasikan untuk tambahan agenda paycheck protection program (PPP), asuransi pengangguran, sekolah dan alokasi untuk pengembangan dan distribusi vaksin.

Poin-poin tersebut disepakati oleh kedua belah pihak baik Golongan Demokrat yang menguasai DPR & Partai Republik yang menguasai Kongres. Sementara itu untuk RUU yang mencakup bantuan senilai US$ 160 miliar yang berisi tentang bantuan sektor usaha dipisah karena pokok ini yang memicu perbedaan aksioma.  

Dengan adanya stimulus setidaknya daya beli umum setidaknya masih bisa terjaga, jadi bisa meredam dampak lanjutan lantaran gelombang kedua Covid-19 yang era ini melanda Paman Sam serta banyak negara di Eropa.

AWAK RISET CNBC  INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(twg/twg)