Jakarta, CNBC Indonesia kacau Bursa saham Amerika Konsorsium (AS) dibuka volatil serta cenderung variatif pada perdagangan Kamis (8/4/2021), di pusat lonjakan harga saham-saham teknologi tetapi koreksi saham primadona sektor lainnya.

Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 27 poin (+0, 08%) pada pukul 08: 30 waktu setempat (20: 30 WIB) dan 30 menit kemudian berbalik minus 50, 1 poin (-0, 15%) ke 33. 396, 12. Namun, S& P 500 naik 9 poin (+0, 22%) ke 4. 088, 92 dan Nasdaq melesat 116, 2 poin (+0, 85%) ke 13. 805.

Investor kian mantap masuk ke bursa saham setelah nota rapat bank sentral GANDAR (Federal Reserve/The Fed) membuktikan bahwa otoritas moneter melindungi laju pembelian surat berharga di pasar, guna menahan harga yang stabil dan penyerapan penuh tenaga kegiatan.


Jika bank sentral langgeng mengikuti rencana awal, oleh sebab itu kurva imbal hasil (yield) antara surat utang pemerintah tenor panjang dan hina akan kian berjauhan. Artinya, pasar kian yakin outlook ekonomi membaik dan nilai pengangguran anjlok.

Namun hati buruk datang dari rilis data Departemen Tenaga Kegiatan yang menunjukkan pengajuan permintaan tunjangan pengangguran baru dalam pekan lalu mencapai 744. 000 unit. Ekonom pada polling Dow Jones sebelumnya memperkirakan angkanya hanya sebesar 694. 000.

“Lompatan permintaan pengangguran mengecewakan tetapi tidak mengubah pandangan kami bahwa dalam beberapa bulan ke depan kita akan tahu hasil yang bagus sebab ekonomi dibuka kian biasa, ” tutur Jeff Buchbinder, perencana investasi saham LPL Financial, sebagaimana dikutip CNBC International .

Pada Rabu, indeks S& P 500 mengecap rekor tertinggi baru pada penutupan, sebesar 4. 079, 95. Dow Jones Industrial Average juga ditutup bangkit 16 poin (+0, 1%) dan menyentuh rekor tertinggi baru. Namun, Nasdaq mengendur 0, 1% meski Amazon, Apple dan Alphabet (induk usaha Google) kompak terbang lebih dari 1%, tengah Facebook melesat 2, 2%.

Presiden AS Joe Biden pada Rabu di Washington menyatakan siap bernegosiasi terpaut dengan rencana kenaikan pajak penghasilan (Pph) badan menjelma 28%, guna mendanai kalender infrastrukturnya senilai US$ 2 triliun.

Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa proposal tersebut akan berujung pada perolehan ekstra sebesar US$ dua, 5 triliun dalam 15 tahun untuk membiayai kalender yang berjalan selama 8 tahun tersebut. Sejak depan, Partai Republik menyatakan keberatannya atas rencana penaikan bea korporasi tersebut, terutama pada tengah situasi pandemi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(ags/ags)